The imperative/Kalimat Perintah

Kita boleh menggunakan imperative untuk memberikan perintah langsung.

  1. Take that chewing gum out of your mouth.
  2. Stand up straight.
  3. Give me the details.

Kita boleh menggunakan imperative untuk memberi instruksi/petunjuk.

  1. Open your book.
  2. Take two tablets every evening.
  3. Take a left and then a right.

Kita boleh menggunakan imperative untuk mengundang.

  1. Come in and sit down. Make yourself at home.
  2. Please start without me. I’ll be there shortly.
  3. Have a piece of this cake. It’s delicious.

Kita boleh menggunakan imperative untuk member tanda dan pemberitahuan.

  1. Push.
  2. Do not use.
  3. Insert one dollar.

Kita boleh menggunakan imperative untuk memberi saran secara tidak formal tapi ramah.

  1. Speak to him. Tell him how you feel.
  2. Have a quiet word with her about it.
  3. Don’t go. Stay at home and rest up. Get some sleep and recover.

Kita boleh menggunakan imperative secara lebih sopan dengan menambah kata kerja “Do”.

  • Do be quiet.
  • Do come.
  • Do sit down.

Taken from http://www.englishgrammarsecrets.com. Translated by David Haris

Hukum Celana Di Bawah Mata Kaki

Rabu, 10 Februari 2010 00:00 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam
AddThis Social Bookmark Button
CetakPDF
rsz_flower_5Mungkin sebagian orang sering menemukan di sekitarnya orang-orang yang celananya di atas mata kaki (cingkrang). Bahkan ada yang mencemoohnya dengan menggelarinya sebagai ‘celana kebanjiran’. Pembahasan kali ini –insya Allah- akan sedikit membahas mengenai cara berpakaian seperti ini apakah memang pakaian ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan.Penampilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Celana Setengah Betis

Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata :

سَمِعْتُ عَمَّتِي ، تُحَدِّثُ عَنْ عَمِّهَا قَالَ : بَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِالمَدِيْنَةِ ، إِذَا إِنْسَانٌ خَلْفِي يَقُوْلُ : « اِرْفَعْ إِزَارَكَ  ، فَإِنَّهُ أَنْقَى» فَإِذَا هُوَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بُرْدَةٌ  مَلْحَاءُ) قَالَ : « أَمَّا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ  ؟ » فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارَهُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ

Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai  teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)

Read more of this post

Adverbial Phrase/ Frase Adverbia

Adverbial phrases atau frase adverbia adalah frase yang terdiri dari satu atau lebih kata keterangan (adverbia) yang menerangkan verba, adjektiva, atau klausa. Head dari frase adverbia, tentu saja, adalah adverbia. Dan tambahan adverbia setelah head dikenal dengan istilah intensifier.

Contoh frase adverbia:
– He scored the goal very quickly. 
– He graduated very recently.
– She left quite suddenly.
 Unfortunately for him, his wife came home early.

Frase preposisi dalam kalimat juga dapat berfungsi sebagai frase adverbia. Perhatikan contoh berikut dibawah ini.
– She lost her head at the retro love-in.
– The salesperson skimmed over the product’s real cost.

– The boss was thrilled at their attitude.
– The rock climbers arrived late at night.

Taken from http://catatanbahasainggris.blogspot.com

Relative Pronouns/Kata Ganti Penghubung (Part 2)

Bogor, 7 November 2011. David Haris.

Relative Pronouns atau Kata Ganti Penghubung adalah kata ganti yang menghubungkan antara dua klausa yang menunjukan keterkaitan antara klausa pertama dan kedua, dengan cara menggabungkan keduanya menjadi satu kalimat. Fungsinya adalah mengambarkan kata yang menjadi fokus dalam kalimat tersebut. Ini ditunjukkan oleh klausa kedua yang menggunakan subject pronoun (he,she,it, they,we I ,you ) atau object pronoun (him, her,its, their, me, your) atau possessive pronoun (his, her(s), its, their(s), my/mine, your(s)). Oleh karena itu, kata ganti tersebut kemudian di ubah menjadi Kata Ganti Penghubung (relative pronoun).

Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:

Kata yang di beri boldface adalah kata yang menjadi fokus

Ex:

1. People as the subject (Who/That)

–          The man is my teacher.

–          He got an accident last night.

He got an accident last night.

The man who/that got an accident last night is my teacher.

2. People as the object (whom)

–          The boy is my neighbor’s son.

–          You met him at the restaurant yesterday.

You met him at the restaurant yesterday

The boy whom you met at the restaurant yesterday is my neighbor’s son

3. Things (that/which)

–          I like the house.

–          It has a swimming pool.

It has a swimming pool.

I like the house that/which has a swimming pool.

4. Possession (whose/of which)

–          The woman was hospitalized this morning.

–          Her son was found guilty in a murder case.

–          Her son was found guilty in a murder case.

The woman whose/of which son was found guilty was hospitalized this morning.

Written By David Haris

Keutamaan Belajar Islam

Selasa, 24 Mei 2011 21:00 Muhammad Abduh Tuasikal Faedah Ilmu
AddThis Social Bookmark Button
CetakPDF
menuntut-ilmuBerikut adalah keutamaan belajar Islam atau mempelajari ilmu diin. Perkataan-perkataan di bawah ini adalah perkataan para ulama di masa silam yang kami nukil dari Mughnil Muhtaj, kitab fiqih Syafi’iyah buah karya Muhammad bin Al Khotib Asy Syarbinirahimahullah. Semoga semakin membuat kita semangat mempelajari berbagai ilmu dalam agama ini.Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,

تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لَكَ حَسَنَةٌ ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ ، وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ ، وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ .

“Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ ، الْعِلْمُ يَحْرُسُك وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ ، وَالْعِلْمُ يَزْكُو بِالْإِنْفَاقِ

“Ilmu (agama) itu lebih baik dari harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta mesti engkau menjaganya. Harta akan berkurang ketika dinafkahkan, namun ilmu malah bertambah ketika diinfakkan.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

مَجْلِسُ فِقْهٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

“Majelis ilmu lebih baik dari ibadah 60 tahun lamanya.”

Read more of this post

Passive Voice/ Kalimat Pasif

Kita menggunakan Bentuk kalimat Active untuk menyatakan perbuatan subject.

  • He drove the car yesterday.
  • I clean my house once a week

Kita menggunakan bentuk kalimat Passive untuk menyatakan apa yang terjadi pada subject.

  • The car was driven by somebody else yesterday.
  • The house was cleaned only yesterday

Kadang ketika kita menggunakan kalimat Passive, kita tidak mengetahui siapa pelakunya.

  • My watch was made in Switzerland.
  • My car has been damaged.

Persaudaraan Dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah sempurna iman seseorang, sehingga dia mencintai saudara muslim yang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap saling mencintai dan kepedulian kepada saudaranya yang seiman adalah hal yang di sunnahkan yang bersifat wajib bagi seseorang yang sudah bersyahadat dan mengaku sebagai muslim. Tidaklah baik apabila kita sering mencela apalagi memusuhi saudara kita sendiri. Apa bila ini terjadi, Kita lebih di cela lagi oleh Allah SWT seperti memakan bangkai saudara sendiri.

Read more of this post