Persaudaraan Dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda “ Tidaklah sempurna iman seseorang, sehingga dia mencintai saudara muslim yang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap saling mencintai dan kepedulian kepada saudaranya yang seiman adalah hal yang di sunnahkan yang bersifat wajib bagi seseorang yang sudah bersyahadat dan mengaku sebagai muslim. Tidaklah baik apabila kita sering mencela apalagi memusuhi saudara kita sendiri. Apa bila ini terjadi, Kita lebih di cela lagi oleh Allah SWT seperti memakan bangkai saudara sendiri.

Tentunya tak seorang pun yang mau memakan bangkai. Jangankan memakannya, menciumnya saja kita sudah mual dan mau muntah. Inilah yang di tegaskan Allah SWT dalam Firman-Nya QS Al Hujuraat (49:12)”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Sebegitunya Allah SWT mencela sikap seorang yang suka mencela dan menyebar fitnah sehingga disamakan dengan kanibal yaitu manusia yang suka memakan bangkai daging manusia yang lain. Nauzubillahimindzaliq!

Namun tak di pungkiri hal ini seringkali terjadi di sekeliling kita di karenakan sebahagian kita sangat lupa dengan ajaran Dinul Islam yang oleh kaum muslimin kebanyakan terjebak dalam kenikmatan dunia yang sesaat.  Sepertinya tidak pernah punya waktu untuk berkunjung kepada tetangga yang sakit atau malah saudara dekat kita sekalipun untuk bersilahturahmi. Waktu pun habis hanya untuk mencari harta tanpa peduli dengan kejadian yang ada di sekelililing rumahnya. Entah karena diantara mereka bermasalah satu sama lainnya ataupun yang lainnya. Begitu tipisnya rasa persaudaraan itu sehingga sikap cuek, acuh tak acuk menjadi karakter dalam diri orang tersebut. Malah lebih parahnya lagi mungkin saja gembira atas kemalangan yang terjadi pada orang yang memang tidak disukainya itu.

Ironi memang! Tapi begitulah kenyataan yang ada. Bahkan begitu dangkalnya pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah seorang muslim sehingga kita sering mendengar nada miring yang terucap oleh seorang yang mengaku Islam sebagai agamanya. Saat kita bersimpati atas musibah yang terjadi di negara muslim di belahan dunia yang lain dan kita mengajak untuk ikut andil dalam suatu sikap atau aktivitas kemanusiaan, mereka malah memilih bersikap acuh dan berkata-kata yang menunjukan keengganan. Sepertinya sikap itu menunjukan jika saya lakukan maka tidak ada manfaatnya buat saya. Rasulullah SAW pun mengingatkan kita bahwa persaudaraan dalam Islam itu diibaratkan satu tubuh, apabila salah satunya sakit, maka sakit pula bagian  tubuh yang lainnya. Kalau ada yang besikap demikian, maka keimanannya belumlah sempurna, seperti yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW.

Ini pulalah yang bisa menjerumuskan kita kedalam sifat munafiq. Sikap ini juga merupakan bentuk  pengingkaran terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW karena kita tidak mengikuti anjuran Rasulullah SAW untuk bersikap berkasih sayang dan peduli terhadap saudara dan kita sudah mengakui Muhammmad SAW sebagai rasul-Nya. Banyak dalil-dalil Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk ta’at kepada Rasul-Nya. Apabila ada perbedaan pendapat kita harus saling menghormati. Jangan sampai terjadi permusuhan apalagi adu fisik. Kembalikan lagi permasalahan itu kepada sumbernya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai timbangan. Jangan sebaliknya. Sehingga di temukan solusi atau penyelesaian yang terbaik. Kita juga bisa menjadi problem solver. Rasulullah SAW juga bersabda ‘Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi manusia lainnya.”

Ada 3 hal yang juga di sunnahkan kepada kaum muslimin yaitu memuliakan tamu, menyantuni anak yatim, dan berbaik dengan tetangga.  Ini sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan kaum muslimin mengingat besarnya amalan dalam menjalin silahturahmi. Berlaku santun dan memberikan salam kepada orang yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal beliau adalah keseharian dalam hidup Rasulullah SAW. Menyantuni anak yatim merupakan kewajiban yang di perintahkan oleh Allah SWT dan ancaman siksa neraka kalau kita hanya memakan harta kita sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa dalam harta kita itu ada hak anak yatim yang mesti kita keluarkan. Dan menjaga hubungan baik dengan tetangga seperti yang di sabdakan oleh Rasulullah SAW akan membawa perjumpaan kita dengan wajah Allah SWT nanti di akhirat. Begitu pula sebaliknya apabila kita memutuskan tali silahturahmi, maka kita tak bisa melihat wajah Allah SWT dan lebih prah lagi kita akan didiamkan atau diacuhkan. Alangkah ruginya kita nanti diakhirat tidak bisa menjumpai Allah SWT, Sang Pencipta. Dan kita tak akan bisa berbuat apa-apa karena tidak bakal bisa kembali kedunia dan yang ada hanyalah penyesalan. Allahu’alam.

Written By David Haris

About deftleon
Hi, I'm originally from Padang & I love to make friends. I was born in Bukitinggi, Sumatera Barat, Indonesia,(the country that I love most). I love Islam, Allah and Muhammad Salallahu Wa'alaihi Wassalam. Right now, I am working as English Teacher in a private senior high school in Bogor. And I enjoy it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: