Hidayah Itu pun Datang

Bela Untuk Islam Itu Wajib

by David Haris on Monday, March 29, 2010 at 2:20pm

Berbuat Demi Islam Itu Wajib! (sebuah pengalaman menuju hidayah)

Tulisan ini dibuat semata-mata ingin berbagi kisah pengalaman pribadi dengan saudara-saudaraku seiman. Menegaskan bahwa kita sebagai muslim wajib membela Allah SWT dan Rasul-rasul-Nya. Semoga bermanfaat.

Agama adalah haq yang dianut oleh setiap individu dari manusia yang lahir di muka bumi ini. Apapun agamanya baik Islam, Kristen, Hindu, atau yang lainnya tergantung daripada agama orang tua pada awalnya. Dalam agama Islam, setiap bayi yang lahir adalah dalam keadaan fitrah. Dan terlahir sebagai muslim adalah suatu karunia yang semestinya patut kita syukuri karena tidak semua manusia terlahir demikian di belahan dunia yang lain. Ini terjadi lantaran kedua orang tua kita juga beragama Islam. Secara otomatis jadilah kita sebagai generasi muslim.
Saya sendiri sejujurnya boleh dikatakan terlambat menyadari hal ini dengan umur saya sekarang. Namun bertahun-tahun juga saya terus terusik untuk bisa menata gaya hidup saya supaya menjadi lebih baik lagi. Nurani saya terus menerus berontak kapan saya mau berubah. Saya melihat begitu banyak hal-hal yang patut disyukuri dengan apa yang sudah saya dapatkan. Keluarga, pekerjaan, kesehatan. Allah SWT sudah memberikan banyak nikmat kepada saya, terutama karena saya terlahir sebagai muslim. Saya harap anda pun demikian.

Kemudian timbul pertanyaan. Apa ya, sumbangsih yang sudah saya lakukan terhadap agama yang saya anut? Apa itu Islam, bagaimana sejarah Islam, hidup secara Islami, hukum-hukum Islam dan berbagai hal yang lainnya. Sejujurnya saya nyatakan bahwa belum banyak yang saya tahu. Apa Islam itu sudah ada dalam hati saya? Saya beriman, ya..Tuhan saya Allah, Nabi saya Muhammad, kitab saya Al Qur’an. So, what’s next? Saya kemudian sadar, ternyata belum ada yang saya lakukan selain hanya shalat, puasa, silahturahmi dan segala rutinitas lainnya. Tapi, apa yang selama ini saya lakukan ternyata hanya untuk diri saya sendiri dan keluarga. Bagaimana dengan penegakan agama saya sendiri?

Apakah ini hidayah? Walahua’lam. Semua ini berawal sewaktu saya mendapat berita dari teman bahwa ada situs yang menghujat Islam. Karena penasaran saya buka dan baca, Astaughfirullah! Masyaalallah!!! Sungguh kejam dan jahat orang- orang ini. Dengan kedangkalan ilmu mereka dan begitu bebasnya mereka mencaci dan melecehkan agama Islam, Allah dan Rasul-Nya. Saya baca dan terus baca. Hati saya deg-degan. Saya terus telusuri dan mencari tahu dan ternyata orang-orang yang dibelakang ini semua sangat busuk dan sebagian mereka ternyata adalah para murtadin-murtadin yang justru menyerang Islam, agama yang dulu mereka anut. Nauzhubillahiminzhalik. Satu hal yang pasti adalah mereka mendapat dukungan dan dana dari misionaris-misionaris non muslim dari dalam dan luar negeri yang membenci Islam. Karena tidak mungkin semua ini ada kalau bukan dorongan dari mereka.

Dengan kedangkalan ilmu dan fikiran itu , mereka menelaah masalah Islam dengan tidak jelas beserta dalil-dalil berdasarkan logika akal pikiran busuk dan nafsu, yang pada akhirnya mengajak muslim lain juga ikut murtad dari Islam. Nauzhubillahiminzhalik! Tak bisa saya bayangkan betapa berbahayanya situs-situs ini karena hingga sampai sekarang belum ada tindakan tegas dari pemerintah atas pelanggaran dan penodaan agama yang sudah ditetapkan pemerintah sejak tahun 1965. Yang kemudian saya ketahui yaitu UU No.1/PNPS/1965.

Bersama dengan para SIPILIS, muslim yang penganut paham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme, kini mereka terus berusaha untuk melakukan judicial review kepada pemerintah terhadap pasal-pasal tersebut sehingga kalau pemerintah mencabut UU No.1/PNPS/1965 tersebut, maka mereka yang menghujat dan menodai Islam tidak akan pernah bisa dituntut atau dijatuhi hukuman. Tak bisa terbayangkan akan ada chaos besar-besaran karena tidak adanya hukum yang bisa bertindak. Tergetar hati saya. Saya harus mengambil sikap. Saat itu juga jiwa Islam saya terpanggil dengan mengirim surat pernyataan keberatan ke Mahkamah Konstitusi. ini seperti membuka mata saya karena selama ini ternyata saya belum pernah berbuat apapun untuk menegakkan agama yang saya anut.

Sejak peristiwa itu, bagaikan magnet, saya semakin haus akan nilai-nilai Islam. Saya ikuti terus perkembangan demi perkembangan. Selain itu saya juga membuka situs-situs Islam lainnya dan juga mencoba berdakwah lewat jejaring sosial, Karena sebagai muslim saya wajib berdakwah dan saling memberikan nasehat sebagaimana hadist Rasulullah SAW “Sebaik-baik hamba Allah adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” dan juga “Sampaikanlah, walaupun satu ayat”. Walau sedikit-sedikit namun saya terus berusaha dan juga memperbaiki juga pola kehidupan saya bersama keluarga. Namun saya akui ini belum apa-apa. Syukur masih ada yang peduli dengan nilai-nilai Islam tapi sebagian juga masih buta dan enggan dengan hal ini sehingga membuat saya sedih. Sudahkah mereka Islam dalam hati dan perbuatan?

Sikap dan perilaku kita haruslah seiring dengan hati atau qalbu, karena kita sudah bersumpah untuk setia kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya sejak pertama kali membaca kita syahadat maka kita wajib membela walau sekecil apapun. Islam meliputi seluruh aspek kehidupan. Mulai dari keluarga, lingkungan, negara, dan ummat muslim sedunia. Subhanallah, betapa agungnya persatuan dalam Islam ini. Kita harus berani mengambil sikap dan tegas terhadap segala kemungkaran. Ataukah kita selama ini mengikuti kelakuan mereka? Membiarkan semua terjadi tanpa berbuat apa-apa? Berarti kita sama saja dengan mereka, karena memisahkan antara agama dengan pola kehidupan bermasyarakat.

Mari dan buktikan kalau kita benar- benar Islam dalam menentukan sikap dan perbuatan . Tanya diri kita. Dimana kita sewaktu Allah SWT dan Rasul-Nya dihujat? Mana kewajiban kita dalam berdakwah? Sebagai pemimpin keluarga ,sudah yakin keluarga kita masuk surga? Sudah benarkah tata cara sholat kita? Seberapa besarkah harta yang kita sudah gunakan ke jalan Allah? Kepedulian kita kepada ummat? Taatkah kita mengimplementasikan ayat-ayat Al-Qur’an dan As-sunnah? Atau justru melanggarnya? Sia-sia sudah amalan kita selama ini di sebabkan kita masih mengingkari ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul. Nauzhubillahiminzaliq!!

Kalau kita tidak pernah melakukannya mana mungkin Rasulullah dan Al-Quran akan memberikan safaat kepada kita nanti di padang Ma’syar (Kiamat) . Toh kita gak perduli atau bahkan kita gak pernah membela beliau. Apa jadinya nanti di hadapan Allah SWT di padang Masyar karena kita sudah mendustakan bahkan mengingkari sumpah kita sendiri (syahadat). Seluruh anggota badan kita akan bersaksi akan apa yang sudah kita lakukan selama hidup di dunia. Semua akan dipertanggungjawabkan. Apakah kita masih asyik dengan diri kita sendiri? Hidayah bukan di nanti tapi harus dicari.
Selagi kita masih bernafas jangan sia-siakan karena umur kita yang semakin berkurang. Kematian mengintai kita setiap waktu. Dan itu adalah pasti.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185).

Hidup adalah pilihan yang sudah digariskan tapi kita yang menentukan. Mau membela Allah dan Rasul-Nya? Atau justru mendustakan ayat ayat-Nya dan as sunnah? Dan ini terjadi sebagaimana umat-umat sebelumya (Yahudi dan Nashrani). Walahua’lam wisawab.

Written By David Haris

Note: Dinukil dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=381415117190

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: